Selasa, 12 Maret 2013

5 suplemen penguatku agar tetap exis

Taujih buat istri aktivis dakwah

5 BEKAL BAGI ISTRI AKTIVIS DAKWAH


Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.

Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:

1. Bekalan Yang Bersifat Pemahaman (fikrah).

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!

2. Bekalan Yang Bersifat Ruhiyah.

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita.

3. Bekalan Yang bersifat Ma’nawiyah (mentalitas).

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu) dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!

4. Bekalan Yang bersifat Aqliyah (intelektualitas).

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!

5. Bekalan Yang Bersifat Jasadiyah (fisik).

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’.

Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?


Sumber : Dakwatuna
Top of Form

Bottom of Form

Bersungguh-sungguhlah menghadirkan dalam diri kita alasan yang menjadikan Allah memenangkan kita

Bersungguh-sungguhlah menghadirkan dalam diri kita  alasan yang menjadikan Allah memenangkan kita.
Seorang ustadz yang merupakan salah seorang penggerak dakwah pertama di Sultra yang telah sekian lama membersamai kader di Sultra dan dari tangannya lahirlah kader-kader  partai PKS yang menjadi tokoh di daerah SULTRA, dengan beban tugas profesinya harus pindah tugas ke Jakarta. Selang beberapa tahun kemudian beliau ditakdirkan untuk kembali membersamai kader di Sultra dengan amanah baru sebagai  ketua Wilayah dakwah Sulawesi. Ustad ini mengambil cuti selama beberapa tahun dari pekerjaannya sebagai PNS hanya demi amanah dakwah sebagai ketua wilda Sulawesi tersebut.
Tidak mudah untuk punya komitmen yang bagi saya “sangat tidak biasa” tersebut. Meninggalkan jabatan yang secara otomatis  menghilangkan kesempatan untuk memperolah gaji dan tunjangan yang serta merta dapat meningkatkan kesejahteraan. Tapi semua itu pilihan hidup,  dalam kehidupan ini,ada contoh yang Allah hadirkan di sekitar kita tentang pengorbanan di jalan dakwah mewarisi sifat-sifat sahabat nabi dan orang-orang shaleh lainnya , yang berarti bahwa  sifat mewarisi sahabat Nabi dan orang-orang saleh yang pengorbanannya luar biasa dalam menyebarkan agama Allah tidak berhenti  hanya sampai pada generasi sahabat dan tabiin serta tabit tabiiin tetapi ada sampai sekarang. Allah menjaga Al quran seiring dengan memberikan hikmah bagi manusia-manusia terpilih untuk memperoleh hidayah sebagai seorang pejuang dakwah yang berkorban dalam menebarkan dakwah hingga mengesampingkan tuntutan kehidupan dunianya, mereka inilah  yang menjadikan tuntunan dalam Alquran dan Sunnah sebagai sibgah dalam dirinya, yang kemudian menjadi cermin sikap, pikiran dan komitmennya hingga kita mengambil pelajaran dari orang-orang seperti mereka. Tetapi juga ada banyak orang yang memilih hidup untuk beribadah dalam zona nyaman karena hanya sebatas itulah pemahaman keislamannya, yakni hidup ini untuk beribadah mengejar kabahagiaan dunia dan akhirat tanpa tahu ada amanah untuk mendakwahkan agama. Tidak sedikit orang-orang yang mengilmui bahwa umat terbaik adalah yang menegakkan amar makruf nahi munkar tetapi tidak mau melibatkan dalam aktivitas aktivitas tafaqqu fi fidien (mempelajari agama) apatah lagi menyebarkan dakwah.  Tidak sedikit pula orang-orang yang terlibat dalam aktivitas dakwah, tetapi tidak sepenuhnya berkorban , dalam dakwah, mereka adalah orang-orang yang mengukur aktivitas dakwah hanya sebagai pelengkap hidup. Jika ada hubungannya dengan kesejahteraan hidup dan penghasilan, maka hal itu dijalani dengan sunguh-sungguh, tetapi jika hal itu tidak mendatangkan kesejahteraan dunia dan segala tetek bengek yang berhubungan dengan amanah dakwah, maka mohon maaf, masih agenda yang utama yang perlu dituntaskan, ketimbang menghabiskan waktu mengerjakan agenda-agenda dakwah. Sekali lagi semua itu pilihan hidup. Tinggal kita mengukur diri kita ada di tempat yang mana, dan pantaskah kita menjadi pewaris firdaus jika kita berada di salah satu golongan yang disebutkan tersebut.
Kembali ke pengalaman ustad penggerak dan pelopor dakwah di Sultra tersebut, yang mana setelah menilik sederet pengalaman dan sepak terjang beliau dalam menunaikan agenda-agenda dakwah, maka ketika ada pertemuan yang menghadirkan ustad tersebut sebagai pemberi taujih pengokohan kader  (ahad, 20 januari 2012) di Konawe, terbersit tekad untuk tidak melewatkan taujihnya.  Lewat tulisan ini saya ingin berbagi apa yang menjadi pemikiran ustaz tersebut dengan menjadikan Al-quran dan Sunnah sebagai patronnya, yang karenanya menjadikan saya memahami apa yang selama ini masih berkecamuk dalam batin saya mengenai hal yang berhubungan dengan PILKADA dan direct selling.
Merefleksikan pengalaman saya tarbiyah selama kurang lebih 12 tahun, dari mulai ketika perlahan-lahan pemikiran saya mulai terbentuk tentang indahnya hidup dalam naungan AlQuran yang terwasilah lewat jamaah dakwah sejak kuliah smester 3 di sebuah Perguruan tinggi di Makassar.Sejak itu saya intens mengikuti halaqoh hingga sampai pada satu waktu  dimana kami diamanahkan untuk ikut direct selling demi mengusung calon legislative dari Partai. Maka ketika itu pemahaman saya hanya sebatas samina wa atana, yakni jika ini akan memperbaiki system amburadul di parlemen, maka harus ada kader yang terpilih menjadi anggota legislative, sabatas itu pemahaman saya, memenangkan kader demi keberlangsungan dakwah di parlemen.
Beberapa kali Pilkada terlewati dan ada beberapa moment yang saya ikut terlibat proyek direct selling tetapi tetap saja  pemahaman saya hanya sebatas bagaimana memenangkan kader, dan bagaimana memenangkan kandidat yang diusung meskipun kandidat dari eksternal  demi kebelangsungan dakwah kita yang lebih baik dimasa mendatang. Sampai kemudian ketika Tahun 2009 saya kuliah di salah satu Fakultas ternama di Yogjakarta , saya sekali lagi ikut merasakan iklim PILKADA  di Jogjakarta  dimana partai mengusung kandidat eksternal sebagai calon Bupati Sleman. Dalam periode tersebut saya secara khusus punya pengalaman pribadi pada sesuatu yang mengantarkan saya pada pemahaman bahwa sekali lagi direct selling adalah agenda biasa, setiap kali PILKADA sebagai strategi ciri khas partai kita untuk memenagkan calon. Ustadzah saya seorang dosen,  akademisi sekaligus kandidat professor dalam pertemuan suatu ketika di halaqoh membagi kegamangannya tentang direct selling, bahwa mestikah beliau seorang yang sudah tua dari segi umur dan pengalaman dakwah  ikut apel siaga direct selling, kenapa bukan yang muda-muda saja yang bukan seorang akademisi di Kampus yang tidak punya beban profesionalisme seperti beliau saja yang diterjunkan. Kegamangan beliau kata ustazah tersebut telah sering beliau diskusikan dengan beberapa Doktor bahkan Profesor kader partai inii, bahwa mereka mestinya mereka para akademisi dibebankan saja pada strategi penambahan kader dan perluasan fikrah di kampus, sehingga pada hal-hal yang berbau direct selling semestinya  tidak perlu dibebankan lagi pada mereka. Dengan tidak adanya kesimpulan hasil diskusi para akademisi tersebut ditambah dengan  tidak pernahnya  saya menerima materi ataupun membaca secara gamblang  tentang pentingnya direct selling sehingga makin menambah kuat pemikiran saya bahwa  direct selling adalah hal yang biasa dalam  setiap kali PILKADA.
Dalam taujihnya ustad tersebut mengatakan, bahwa untuk menghadirkan kemenangan dari Allah kepada kita, maka hendaknya kita berupaya melakukan amalan yang menjadi alasan Allah memenangkan kita. Senada dengan taujih tersebut ada taujih  dari Syekh Jum’ah Amin mengenai bagaimana hakeket kemenangan. 

Point-Point Taujih Syekh Jum’ah Amin (januari 2013)

Pertama:

لَيْسَتِ الْعِبْرَةُ بَتَنْفِيْذِنَا لِلتَّكَالِيْفِ، وَإِنَّمَا بِحُبِّنَا فِيْ تَنْفِيْذِ هَذِهِ التَّكَالِيْفِ

Yang menjadi ibrah (pandangan dan I’tibar) tidaklah terletak pada pelaksanaan tugas, tetapi, didasarkan pada kecintaan kita kepada tugas-tugas ini.

Sebab, jika terdapat mahabbah, maka akan terjadi مُضَاعَفَةُ الْجُهُوْدِ (pelipat gandaan daya dan upaya).

Kedua:

Apa yang terjadi di Mesir, kalau kita rujuk kepada khuththah (perencanaan) yang ada, sebenarnya adalah rencana dua puluh tahun ke depan, akan tetapi

لَعَلَّ اللهَ اِطَّلَعَ عَلَى قُلُوْبِنَا، فَطَوَى عِشْرِيْنَ عَامًا فِيْ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ يَوْمًا

Semoga karena Allah SWT melongok dan melihat hati kami, lalu Allah SWT gulung waktu 20 tahun itu menjadi hanya 18 hari.

Saat hati-hati kami dilihat oleh Allah SWT, semoga yang Allah SWT lihat adalah keikhlasan, kecintaan, dan kesungguhan kami dalam meraih ridha Allah SWT, amin.

Ketiga:

Kemenangan itu merupakan minnah (مِنَّةٌ) atau anugerah Allah SWT, namun, untuk mendapatkan minnah itu diperlukan “pancingan-pancingan”, yang diantaranya adalah:

1. Dengan upaya-upaya taqarrub (pendekatan) kepada Allah SWT, melalui ruku’, sujud, dan upaya-upaya taqarrub lainnya.

2. Ukhuwwah dan persatuan diantara sesama kaum muslimin.

3. Adanya daya upaya yang berlipat ganda yang kita lakukan, yang salah satu rahasia untuk dapat bekerja seperti ini telah disebutkan rahasianya di point pertama.

Keempat:

Mengutip dari Hasan Al-Banna:

Allah SWT tidak akan menghisab kita atas hasil, akan tetapi yang akan dihisab oleh Allah SWT adalah:

1.      
حُسْنُ الْقَصْدِ (maksud dan niat yang baik), dan

2.      
سَلَامَةُ الْخُطُوْاتِ (langkah-langkah yang benar).



 
Saya pun kemudian menyimpulkan, bahwa DS adalah hal penting yang menjadi salah satu syarat kemenangan jika dilakukan dengan niat yang baik karena Allah dan dilakukan dengan langkah-lanbkah yang benar.

Minggu, 03 Maret 2013

" Menjadilah insan Produktif"
-mencetak generasi dari genetikmu yang unggul, cerdas ,shaleh, berkarakter
-Mencetak saudara seiman yang saleh, agent of change, pelopor kebaikan, penebar kebaikan
- Melahirkan ide-ide pribadi yang terus terbarukan dengan tetap konsisten pada koridor islam syamil
-Hadapi tantangan zaman, dengan terus memperkuat energi ruhiyah dengan charger Alquran tanpa bata.

Kamis, 28 Februari 2013

Bagaimana wajah PKS

 
Menakar kiprah PKS
            Kiprah PKS yang beritanya  mengemuka diberbagai media, hingga menjadi head line news di bulan februari lalu menjadi hal yang tak terbantahkan lagi. Tertangkapnya pucuk pimpinan tertinggi PKS LHI,  memunculkan berbagai opini publik hingga akhirnya berimbas pada kekecewaan beberapa kalangan   terhadap PKS yang citranya dinilai paling baik dalam pemberantasan korupsi selama beberapa tahun terakhir. Implikasi yang lain adalah munculnya kekecewaan masyarakat dari golongan terpelajar mulai dari mahasiswa hingga tokoh masyarakat pada PKS. Fenomena ini tak urung memunculkan sejumlah pertanyaan,  apakah PKS adalah partai yang sudah sedemikian parahnya sehingga tidak bisa diandalkan lagi untuk dipilih sebagai partai harapan yang amanah?
            Munculnya opini yang menjatuhkan citra PKS, bukan hanya lantaran kasus tertangkapnya LHI, tetapi ditengarai oleh mencuatnya pernyataan-pernyaataan yang dilontarkan Yusuf Supendi pada berbagai media , seperti di Metro TV yang mengadakan wawancara khusus pada mantan pendiri PKS tersebut (Minggu/  3 februari 2013) yang pernyataannya begitu menohok para petinggi PKS. Kekecewaan Yusuf supendi  pada PKS; terlepas dari  kekecewaannya karena dikeluarkan dari PKS, ataukah karena motif lain, nyatanya dimanfaatkan oleh sejumlah media untuk memperoleh informasi lebih valid, padahal nyatanya, beberapa informasi yang dilontarkan oleh Yusuf supendi lebih karena opini pribadi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara factual. Atas dasar fakta apa Hilmi aminuddin dan Anis matta serta LHI seperti dikatakan oleh Yusuf bahwa 3 sejoli itu selama ini sudah melakukan sejumlah tindakan yang berindikasi korupsi,?.Semua pernyataan Yusuf Supendi tersebut hanya sebatas prasangka, sehingga mestikah membenarkan dan menyimpulkan bahwa 3 sejoli yang dikatakan Yusuf supendi adalah pelaku korupsi tanpa barang bukti  dengan hanya berdasarkan atas pernyataan yusuf Supendi tersebut?
            Tak dapat dipungkiri bahwa opini yang digadang media telah menyeret opini masyarakat  yang tidak terhindarkan, namun tidak dapat lantas dihakimi bahwa PKS telah habis masa berlakunya, hanya karena opini public yang sudah mewabah itu.  Maka penting untuk menilai dan mengkritisi beberapa hal terkait  pemberitaan tersebut. Pertama: tidakkah lebih dini KPK menetapkan status tersangka pada LHI? padahal statusnya baru sebagai  orang yang disebut namanya  oleh ahmad fathonah satu hari sebelum penangkapan. Nyatanya pada Andi malarangeng dibutuhkan waktu  berbulan-bulan oleh KPK untuk menjadi tersangka  meski namanya berulang kali disebut oleh Nazaruddin dalam persidangannya. Ketika Andi Mallarangeng  menjadi tersangkapun sejak tanggal 3 desember 2012, tidak juga lantas dilakukan penangkapan,? padahal menurut KPK, Andi Malarangeng dinyatakan terjerat pasal 2 dan 3 UU Tipikor mengenai korupsi pada kasus proyek Hambalang (surat KPK dengan no 4/569/01/23/12/2012 bertanggal 3 Desember). Terlalu nampak diskriminasi dalam 2 kasus yang berbeda ini. Kedua, bagaimana dengan masih melenggangnya Anas Urbaningrum sampai saat ini di senayan, padahal berulangkali namanya disebut pula oleh Nazaruddin sebagai orang yang ada kaitannya dengan dugaan koruspi proyek hambalang , dan pada kesaksian yang lain mantan bendahara Partai democrat tersebut  menyatakan bahwa  Anas Urbaningrum menerima uang Rp 80 miliar dalam dua proyek di PLN, namun belum  juga terjerat hukum?
            Adalah tidak salah jika  Anis Matta mengatakan “ada konspirasi dibalik kasus LHI”, mengingat  KPK telah berkurang profesionalismenya  dari fungsi yang seharusnya dilakukan, untuk tidak melakukan diskriminasi pada LHI sang Presiden PKS dan terhadap Anas Urbaningrum sang Pimpinan Partai Demokrat. Sungguh! Keadilan tidak lagi dapat kita rasakan pada Negara yang katanya sudah menjadi Negara yang demokrasinya mulai  maju ini. Ketiga,  penting untuk mengaitkan hubungan antara ahmad Fathanah sebagai salah seorang yang diamankan KPK terkait kasus dugaan suap impor daging dengan LHI. Sebagaimana yang dilansir oleh media pemberitaan bahwa ahmad fathanah adalah orang terdekat LHI yang tertangkap tangan menerima uang RP 1 miliar dari direktur PT Indoguna Utama. Terhadap hal ini, Refrizal, salah seorang ketua DPP PKS,mengatakan bahwa dirinya telah  menanyakan pada ketua  komisi IV DPR mengenai keberadaan ahmad fathanah yang dijawab oleh ketua komisi IV DPR bahwa “memang ada orang yang kerap mendatangi komisi IV dan mengaku teman dekat LHI”. Refrizal  memastikan bahwa tidak ada staf khusus LHI yang bernama ahmad fathonah, karena ahmad fathanah memang bukan kader PKS (http://politik.viva.news.co.id) ,. Membenarkan apa yang disebut oleh Refrizal tersebut , memang menjadi tradisi di PKS bahwa semua asisten pribadi adalah kader PKS, sehingga mustahil dikatakan bahwa asisten pribadi LHI adalah Ahmad fathanah yang nyata-nyata bukan kader PKS. Maka mungkinkah seorang yang bukan kader, bukan pula teman dekat LHI, dapat dipercaya membawa berita yang menyeret nama LHI?. Keempat , apakah ada peran LHI dalam mekanisme importir, bukankah ini tanggung jawab penteri Pertanian, Perdagangan dan perindustrian? Apa hubungan LHI dengan negar-negara  importir daging sapi itu ? Sungguh kita akan menemukan sesuatu yang tidak proporsional pada pemberitaan  yang menimpa LHI kali ini.
            Apa yang sudah menjadi headline news media hari ini dan kemarin, terkait penilaian sejumlah kalangan pengamat politik mengenai “nasib PKS kini yang citranya menurun” adalah hal yang belum terbukti kebenarannya.  Sebelum jelas verifikasi KPK yang clear mengenai kasus ini, semestinya secara bijak semua pihak menahan diri untuk tidak menuding yang berlebihan. Karena faktanya sampai hari ini, PKS terus bekerja untuk bangsa. PKS sebagai  partai yang mementingkan kerja bukan lipstick, telah dibuktikan dengan bergabungnya 50 anak-anak muda warga Aceh barat daya yang menyatakan diri untuk menjadi anggota PKS pada hari minggu  3 februari 2013, (http//dakwatuna.com/2013). Fakta bahwa dukungan dari berbagai daerah terus bermunculan pasca pemberitaan terkait LHI dan bergantinya  kepemimpinan ke tangan Anis Matta, setidaknya   membuktikan bahwa masih ada magnet dari PKS untuk dipercaya menjadi pilihan rakyat. 
            Tidak perlu mempertajam dalam memaknai kata “ konspirasi” yang dilontarkan Anis matta pada pidato pada saat penetapannya menjadi presiden PKS baru. Bahwa ada pihak-pihak yang  ingin menjadikan kasus LHI untuk mengkerdilkan  PKS itu tak dapat dipungkiri, tapi untuk menyalahkan siapa, menurut  anis Matta  itu bukan hal yang penting lagi (Metro tv/3 februari 2013). Tentu tidak fair jika hanya menuding PKS dengan mengabaikan fakta-fakta yang memperlihatkan bahwa masyarakat masih mendukung PKS dan menaruh harapan besar pada partai ini untuk tetap berada digarda terdepan memberantas  korupsi. 
            Hari ini sebelum ada penjelasan yang clear dari KPK mengenai kasus yang menjerat LHI, sebelum KPK membuktikan profesionalismenya dengan tidak melakukan diskrimansi antara petinggi PKS LHI, dan petinggi democrat Andi malarangeng dan Anas urbaningrum, maka belum pantas menghakimi PKS.
            Semoga kiprah awal Anis Matta yang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil ketua DPR RI dan keanggotaannya sebagai anggota  DPR demi memfokuskan pada kerja partai yang berpihak pada masyarakat, menjadi indikasi bahwa keterlibatan PKS di parlemen adalah untuk berkontribusi terhadap perbaikan Negara bukan untuk memperkaya diri. Sejak berdirinya, PKS telah memberi kontribusi yang banyak. Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Cameron R Hume pernah memuji PKS dalam hal pelayanan terhadap konstituennya. Hume mengatakan, cara yang dilakukan PKS sudah demokratis dan menunjukkan salah satu bukti komitmen Indonesia terhadap prinsip-prinsip demokrasi.(http://kampus.okezone.com/2010/06/19). Sebelum semakin jauh mengkritisi PKS,  sebaiknya perlu menyisakan ruang logika dan hati nurani dengan melihat kontribusi nyata PKS untuk masyarakat. 
                 Berita terbaru mencuat, bahwa LHI tidak terlibat dalam kasus dugaan impor sapi. Hal ini dikemukakan oleh saksi dari PT indoguna, bahwa uang yang ada pada ahmad fathonah adalah untuk kegiatan seminar. Apa boleh buat, opini publik telah terbentuk, sehingga sangatlah nampak bahwa memang ada konspirasi untuk memburukkan citra PKS yang selama ini dikenal sebagai partai bersih.
             Jadi, untuk semua pihak yang telah menilai PKS,  tidak cukup arif jika sikap hanya berlandaskan pada penilaian citra. Sejatinya, retorika asasi perlu berpijak pada penilaian  kinerja  kader dan anggota legislative PKS. Sebab seiring berjalannya waktu, citra akan mengikuti kinerja yang tampak. Untuk PKS, jika tetap komitmen pada selektifitas internal yang mengutamakan kualitas calon anggota legislative dalam tahapan pemilihan calon anggota legislative maka hal-hal yang bisa memicu munculnya anggota legislative bermasalah bisa dicegah.Untuk semua kader PKS, dan harapan untuk anggota legislative PKS saat ini, buktikan merahmu dengan kinerja yang berkualitas, dan ekspresikan putihmu dengan selalu berpijak pada kebenaran sejati. Iklim demokratisasi di Negara kita yang tidak lagi terintegrasi dengan belenggu politik semestinya memotivasi semua kader untuk bekerja lebih baik. Slogan “ PKS berupaya menghadirkan pemerintahan yang peduli, bersih dan professional” hendaknya terus terpatri  untuk Indonesia lebih baik. Dan dengan tidak terbuktinya LHI dalam kasus dugaan suap daging impor, membuktikan bahwa PKS masih bersih.



Wassalam.